Rabu, 25 November 2009

Kelahiran Ruang-Waktu dan Jagat-Raya


P
ada tahun 1915 Albert Einstein telah mem-perhitungkan bahwa Jagat Raya kita tidak Statis, tapi mengembang. Sayang sekali kenyataan bahwa Jagat Raya mengembang tersebut sulit diterima oleh para Kosmolog pada saat itu.


Edwin Huble di Observatorium California Mount Wilson  pada tahun 1929 melihat dengan yakin bahwa galaksi-galaksi di luar Bimasakti menjauh dari kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jarak dari bumi, artinya semakin jauh suatu galaksi semakin cepat dia menjauh. Sebuah galaksi berjarak sekitar 10 milyar tahun cahaya akan menjauh dengan laju 200.000 km/detik atau 0,6 kali laju cahaya dan yang paling sukar difahami adalah kenyataan bahwa hal ini terjadi pada semua arah! Laju setinggi itu untuk benda semasif galaksi amat sukar untuk dijelaskan melalui model-model Jagat Raya yang ada saat itu. Huble meramalkan bahwa Jagat Raya kita mengembang.



Persoalan ini menjadi jelas ketika seorang kosmolog Belgia LemaitrL (1931) mengajukan model kosmos yang mengembang. Menurut LemaitrL gerak galaksi adalah bukti bahwa Jagat Raya mengembang. Akhirnya seorang fisikawan Rusia Alexander-Friedmenn memutuskan bahwa Jagat Raya kita memang mengembang. Model Jagat Raya yang mengembang ini disebut Friedmenn dengan istilah expanding universe. Untuk lebih memahaminya, Jagat Raya dapat dianggap sebagai permukaan balon yang membesar. Karena bagian-bagian di permukaan balon ini saling memisah sebagai akibat dari pemompaan atau penggelembungan, hal ini berlaku juga untuk obyek-obyek di ruang angkasa yang saling memisah sebagai akibat dari terus bertambah luasnya alam semesta.

“Dan langit (singular) itu kami bangun dengan kekuasaan kami, dan sesungguhnya Kamilah yang meluaskannya”.
(QS:Adz Dzariyaat 47)

Pada tahun 1940-an George Gamow melahirkan konsep Ledakan Dahsyat Panas (The Hot Big-Bang Model). Konsep ini merupakan kelanjutan dari konsep LemaitrL. Gamow menyatakan bahwa masa dini kosmos ditandai dengan suhu dan rapatan yang amat tinggi, namun kemudian suhu dan rapatan itu menurun seiring dengan gerak muaian alam semesta.

Gamow berkesimpulan bahwa sekitar 15 milyar tahun yang lalu galaksi-galaksi di seluruh Jagad-Raya yang diperkirakan ada 100 milyar dan masing-masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada awalnya adalah sesuatu yang padu yang kemudian meledak dengan sangat dahsyat. Teori Big-Bang menunjukkan bahwa pada awalnya, semua obyek di Jagat Raya merupakan satu bagian yang padu dan kemudian mengembang dan terpisah-pisah.

“Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa sesunguhnya langit (plural) dan bumi itu dulunya sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya ..”
(QS: Al-Anbiya' 30)

Jagat Raya yang bertambah luas itu bisa menunjukkan bahwa dulunya Jagat Raya  berasal dari suatu titik. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal itu mengandung materi yang mempunyai volume nol dan kerapatan yang tak terhingga. Ledakan yang luar biasa dahsyatnya ini menandai awal dimulainya Jagat Raya. Meluasnya Jagat Raya itu merupakan salah satu bukti terpenting bahwa Jagat Raya diciptakan dari ketidakadaan.

Tatkala alam mendingin, karena ekspansinya, sehingga suhunya merendah melewati 1.000 trilyun-trilyun derajat, pada umur 10-35 detik, terjadilah gejala "lewat dingin". Pada saat pengembunan tersentak, keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1.000 trilyun-trilyun derajat, dan seluruh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10-32 detik. Ekspansi yang luar biasa cepatnya ini menimbulkan kesan seolah-olah alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi
Karena materialisasi dari energi yang tersedia, yang berakibat terhentinya inflasi, tidak terjadi secara serentak, maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos. Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini tidak seorang pun tahu; namun tatkala umur alam mendekati seper-seratus sekon, isinya  terdiri  atas  radiasi  dan partikel-partikel sub-nuklir.

Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat tetapi bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai zat-alir (Fluida) daripada zat padat sehingga para ilmuwan memberikan nama Cosmos Soup. Antara umur satu detik dan tiga menit terjadi proses yang dinamakan nukleosintesis; dalam periode ini atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir.

 “Kemudian Dia menuju pada penciptaan Langit (singular),
dan Langit saat itu berupa Uap, ..”.
(QS. Fushshilat: 11).

Sekitar 380.000 tahun setelah Big-Bang, proton dan elektron bergabung membentuk atom Hidrogen Netral. Jumlah elektron bebas berkurang. Karena partikel penyebarnya (elektron) berkurang, maka penyebaran cahaya atau radiasi juga berkurang. Jadi, Jagat Raya sekitar 380.000 tahun setelah Big-Bang menjadi transparan. Permukaan bola pada jarak 380.000 tahun setelah Big-Bang disebut “permukaan penyebaran terakhir” atau surface of last scattering.

Kalau kita melihat ke surface of last scattering (berarti ke masa 380.000 tahun setelah big bang), di balik surface of last scattering tidak dapat kita lihat karena Jagat Raya waktu itu tidak transparan. Jagat Raya mulai dari surface of last scattering hingga kita transparan. Dari surface of last scattering itu kita melihat radiasi yang berasal dari Big-Bang yang dikenal sebagai latar belakang gelombang mikrokosmik atau Cosmic Microwave Background disingkat CMB.
Pada tahun 1948, ahli astrofisika kelahiran Rusia, George Gamow, mengemukakan bila kita melihat cukup jauh ke alam semesta, maka kita akan melihat radiasi latar belakang sisa dari Big-Bang. Gamow menghitung bahwa setelah menempuh jarak yang sangat jauh, radiasi itu akan teramati dari Bumi sebagai radiasi gelombang mikro.

Pada tahun 1965, Arno Penzias dan Robert Wilson sedang mencoba antena telekomunikasi milik Bell Telephone Laboratory di Holmdel, New Jersey. Mereka dipusingkan oleh adanya desis latar belakang yang mengganggu. Mereka mengecek antena mereka, membersihkan dari tahi burung, tetapi desis itu tetap ada. Mereka belum menyadari desis yang mereka dengar itu berasal dari tepi Jagat Raya. Penzias dan Wilson menelepon astronom radio Robert Dicke di Universitas Princeton untuk minta pendapat bagaimana mengatasi masalah itu. Dicke segera menyadari apa yang didapat kedua orang itu. Telaah oleh Dicke dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa radiasi itu tidak lain adalah radiasi sisa masa muda kosmos seperti yang diharapkan Gamow. Segera setelah itu dua makalah dipublikasikan di Astrophysical Journal. Satu oleh Penzias dan Wilson yang menguraikan penemuannya, satu oleh Dicke dan timnya yang memberikan interpretasi. Penzias dan Wilson memperoleh Hadiah Nobel untuk Fisika pada tahun 1978.

Penemuan CMB itu dikukuhkan oleh satelit Cosmic Background Explorer (COBE) milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Pengukuran oleh satelit Cobe itu menunjukkan temperatur CMB yang hanya 2,725 derajat Kelvin. Satelit COBE memetakan radiasi itu di segala arah dan ternyata semuanya uniform sampai ketelitian satu dibanding 10.000. Kalau kita mempunyai mata yang peka pada CMB, maka langit seperti dilabur putih, sama di semua arah, mulus sempurna tidak ada noda-nodanya.
Ini sesuai dengan prinsip dasar kosmologi bahwa Jagat Raya ini isotropik dan homogen; seragam di semua arah. Yang kita lihat adalah surface of last scattering.

Sedemikian seragamnya CMB hingga hanya alat yang sangat sensitif dapat melihat adanya fluktuasi atau ketidakseragaman pada CMB. Untuk itu, NASA telah meluncurkan satelit antariksanya, Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP), yang lebih cermat daripada COBE untuk mempelajari fluktuasi itu. Dengan mempelajari fluktuasi itu, diharapkan kita dapat mengetahui asal mula galaksi-galaksi dan struktur skala besar Jagat Raya dan mengukur parameter-parameter penting dari Big-Bang. Radiasi yang menyebar secara serbasama dan isotropik itu sejauh ini menjadi landasan untuk ketepatan model Ledakan Dahsyat memaparkan masa muda alam semesta. Maka kosmologi masa kini pun bertumpu pada model Ledakan Dahsyat sebagai paradigma utamanya.


Nobel Fisika 2006 semakin me-ngukuhkan teori Big-Bang. Dua ilmuwan antariksa AS John C Mather dan George F Smoot meraih penghargaan Nobel Fisika 2006 dengan penemuannya Teori Gelombang Kejut Energi Pasca terjadinya Big-Bang. sejumlah petunjuk menyangkut bagaimana dan kapan galaksi pertama terbentuk juga sedikit banyak berhasil diungkap.

Penelitian mereka mengarah pada radiasi CMB. Ini merupakan gelombang kejut energi yang dikeluarkan dari ledakan dan masih memancarkan radiasi melintasi angkasa yang terus berkembang sementara batas-batas semesta meluas. Radiasi itu memiliki suhu 2,725o K. Dalam kondisi itu, secara perlahan terbentuklah spektrum elektromagnetik, bernama blackbody yakni pola petunjuk energi dari sebuah benda yang mendingin.

Radiasi CMB terjadi bersamaan ketika temperatur di jagad raya semakin rendah yang menciptakan hidrogen atom pada saat 380.000 tahun setelah Big-Bang terjadi. Proses tersebut pada akhirnya memisahkan materi dan senyawa. Dari susunan materi tersebut maka terbentuklah Bintang serta Galaksi. Menurut Prof. Michael Rowan-Robinson, Ketua Royal Astronomical Society Inggris, bahwa temuan itu berhasil mendemonstrasikan secara tepat spektrum blackbody dari CMB dan fluktuasi radiasi kosmik dalam permulaan Jagat Raya.
 

Sabtu, 14 November 2009

Mencegah perubahan alam


Agar tidak timbul bencana, sudah seharusnya manusia menjaga agar alam ini tetap seimbang dan stabil. Hutan tidak di gunduli, tambang tidak disedot habis-habisan, udara tidak dicemari. Peraturan dan pengaturan yang ketat akan sia-sia manakala manusia tidak menyadari perilaku jahatnya dapat mengakibatkan efek kehancuran.

Dari sinilah timbul korelasi bencana dengan sifat alam dan manusia sebagai pelaku pemicu bencana. Dengan demikian bencana dapat terjadi manakala manusia bersifat serakah, mengejar harta berlebihan, rakus dan sifat jelek lainnya.

Dengan demikian kita bisa menyusun pertanda terjadinya bencana besar adalah munculnya penjahat-penjahat besar (tokoh) dan mengutamakan keserahakan sebagai sifat berteman dengan jin. Atau kesimpulan berikut ini tidaklah salah : "Alam yang tidak ramah akibat manusia yang bersifat jahat, korupsi muncul dimana-mana, penjahat merajalela, manusia menjadi ganas dan memakan manusia lainnya". Alam tidak bisa di bohongi !

Pembahasan manusia sebagai titik sentral penyebab bencana akhirnya melahirkan sifat dasar dorongan berbuat jahat yakni bentuk roh yang tidak stabil. Mengapa bentuk roh tidak stabil ? karena melupakan bentuk stabil itu !. Dari sinilah peran agama dibutuhkan untuk mengembalikan manusia pada bentuk dasarnya yang stabil yakni ingat kepada Allah dan condong berbuat baik, sehingga menjadi cahaya bagi masyarakat dan alam ini

Bagi pelaku alam yang memiliki roh bentuk tidak stabil (selalu melakukan kejahatan), maka akibat bencana itu adalah azab, sedangkan bagi roh yang stabil maka bencana itu adalah ujian. Beberapa manusia diselamatkan dari bencana itu, bertujuan untuk menerangkan kepada manusia agar selalu berbuat baik.

Hal ini sangat masuk akal ketika bencana pun melanda orang yang sedang sholat subuh di banjarnegara januari 2006. Bukankah perjalan hidup ini adalah menjaga hidup ini seperti bayi lagi (tanpa dosa) atau secara bahasa simbol adalah selalu berpola abadi 1-2-2-1-3. Hal yang masuk akal bahwa yang selamat adalah universal tanpa memandang ras, suku dan agama tertentu, sebaliknya juga adalah masuk akal jika korban adalah manusia tanpa memandang ras, suku dan agama tertentu.

Orang yang menang adalah ketika datang bencana entah menjadi korban atau tidak selalu dalam keadaan seperti bayi yang baru di lahirkan, sifat ini terlahir sebagai sifat untuk melarang orang-orang berbuat jahat.

Bagaimana gempa bumi, gunung meletus, kabut asap dan bencana lainnya adalah ulah manusia ? . Penjelasan ini sangat masuk akal saat kita tidak tahu bahwa penyakit kulit itu berdampingan dengan penyakit kelamin. Ketika orang suka pergi ke PSK, maka terjadi perubahan pada dirinya dari bentuk stabil menjadi bentuk tidak stabil atau sudah tidak stabil, kemudian menumpuk ketidakstabil. Ef ek dari kepergian ke PSK, maka tubuh beradaptasi dan lahirlah penyakit kulit. Bagaimana hubungan kulit dan kelamin muncul ? tidak lain karena mahluk kecil yang bernama virus.

Bayangkan tubuh tadi adalah satu sistem yang saling ketergantungan, roh dengan kelamin dan kulit tidak berubungan sama sekali, namun ketika tubuh bereaksi untuk adaptasi terhadap perubahan yang dilakukan oleh dorongan roh untuk ke PSK, maka fisik akan berpengaruh.

Sama halnya alam ini adalah satu sistem kesatuan yang seimbang, saat manusia melakukan aktifitas yang berlebihan maka untuk adaptasi ini alam melakukan keseimbangan baru. Sebab kabut asap adalah ulah manusia, sebab lumpur lapindo adalah ulah manusia, sebab gempa bumi-pun adalah ulah manusia yang tidak secara langsung karena menganggu keseimbangan alam.

Lalu kalau tidak ada manusia, apakah tidak ada gempa bumi, tidak ada gunung meletus ? Jawaban ini cukup mudah di mengerti saat manusia bukanlah satu-satunya pelaku ketidak seimbangan alam ini. Bumi sendiri yang sedang bergerak menuju pada kestabilan baru setelah parameter diubah. Artinya parameter itu datangnya secara alami, bertujuan untuk keseimbangan baru agar pelaku alam menjadi lebih aman dengan melepaskan 'sesuatu' (gempa, gunung meletus) sehingga keseimbangan baru muncul, akhirnya bumi selamat dari kehancuran global.

Adalah aneh yang terjadi pada manusia, saat bencana muncul tidak melihat penyebab asal, namun lebih pada ketakutan dirinya sendiri, sehingga menggantungkan dirinya pada sesuatu yang lebih tinggi. Penuhanan gunung, bumi dan simbol-simbol lain adalah bentuk gambling umat manusia terhadap ketakutan dirinya menghadapi pergerakan alam.

Jika mengacu pada bentuk keseimbangan alam, tentu umat manusia tidak perlu kuatir, namun yang lebih penting bagaimana menjaga alam ini, sehingga umat manusia tidak semakin parah menuju pada kehancuran. Secara individu adalah bentuk keseimbangan roh dengan mengingat keabadian atau menghadirkan nama Allah dalam roh masing-masing sebagai dorongan berbuat baik adalah merupakan cahaya bagi pelaku alam lain. Secara negara, maka menghindari munculkan bentuk tidak stabil dominan (tokoh berbuat jelek) adalah sangat penting, jangan sampai di permukaan terlihat bersih, namun di dalam sangat kotor. Alam tidak bisa di bohongi !


Alam tidak bisa di tipu, sama halnya ketika manusia sudah sering kencan dengan PSK, maka bentuk anatomi tubuh juga ikut beradaptasi. Mata tidak bisa di tipu ketika mata manusia jelalatan saat melihat gadis, atau karena sering nonton porno, maka wajah manusia tidak memancarkan cahaya, namun lebih memancarkan nafsu. Alam tidak bisa di tipu saat banyak terjadi bencana, maka di situlah atau di dalam situlah terjadi masalah besar akibat pola manusia, walau terlihat bersih